- Back to Home »
- EFEK DARI PENGGUNA AIDS / HIV
Posted by : muhammad yusuf
Minggu, 14 Desember 2014
Dampak HIV/AIDS Terhadap Kehidupan
1. Dampak Demografi
Salah satu efek jangka
panjang endemi HIV dan AIDS yang telah meluas seperti yang telah terjadi
di Papua adalah dampaknya pada indikator demografi. Karena tingginya
proporsi kelompok umur yang lebih muda terkena penyakit yang
membahayakan ini, dapat diperkirakan nantinya akan menurunkan angka
harapan hidup. Karena semakin banyak orang yang diperkirakan hidup dalam
jangka waktu yang lebih pendek, kontribusi yang diharapkan dari mereka
pada ekonomi nasional dan perkembangan sosial menjadi semakin kecil dan
kurang dapat diandalkan. Hal ini menjadi masalah yang penting karena
hilangnya individu yang terlatih dalam jumlah besar tidak akan mudah
dapat digantikan. Pada tingkat makro, biaya yang berhubungan dengan
kehilangan seperti itu, seumpama meningkatnya pekerja yang tidak hadir,
meningkatnya biaya pelatihan, pendapatan yang berkurang, dan sumber daya
yang seharusnya dipakai untuk aktivitas produktif terpaksa dialihkan
pada perawatan kesehatan, waktu yang terbuang untuk merawat anggota
keluarga yang sakit, dan lainnya,juga akan meningkat.
2. Dampak Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan
Tingginya tingkat
penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok manapun berarti bahwa semakin
banyak orang menjadi sakit, dan membutuhkan jasa pelayanan kesehatan.
Perkembangan penyakit yang lamban dari infeksi HIV berarti bahwa pasien
sedikit demi sedikit menjadi lebih sakit dalam jangka aktu yang
panjang, membutuhkan semakin banyak perawatan kesehatan. Biaya langsung
dari perawatan kesehatan tersebut semakin lama akan menjadi semakin
besar. Diperhitungkan juga adalah waktu yang dihabiskan oleh anggota
keluarga untuk merawat pasien, dan tidak dapat melakukan aktivitas yang
produktif. Waktu dan sumber daya yang diberikan untuk merawat pasien HIV
dan AIDS sedikit demi sedikit dapat mempengaruhi program lainnya dan
menghabiskan sumber daya untuk aktivitas kesehatan lainnya. Penelitian
yang dilakukan oleh John Kaldor dkk pada tahun 2005 memprediksi bahwa
pada tahun 2010, bila upaya penanggulangan tidak ditingkatkan maka 6%
tempat tidur akan digunakan oleh penderita AIDS dan di Papua mencapai
14% dan pada tahun 2025 angka – angka tersebut akan menjadi 11% dan 29%.
Meningkatnya jumlah penderita AIDS berarti meningkatnya kebutuhan ARV.
Rusaknya sistem kekebalan tubuh telah memperparah masalah kesehatan
masyarakat yang sebelumnya telah ada yaitu tuberkulosis. Banyak
penelitian yang menunjukkan bahwa kejadian TB telah meningkat secara
nyata di antara kasus HIV. TB masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia dimana setiap tahunnya
ditemukan lebih dari 300.000 kasus baru, maka perawatan untuk kedua
jenis penyakit ini harus dilakukan secara bersamaan.
3. Dampak Terhadap Ekonomi Nasional
Mengingat bahwa HIV
lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka yang berada pada umur
produktif utama (94% pada kelompok usia 19 sampai 49 tahun), epidemi HIV
dan AIDS memiliki dampak yang besar pada angkatan kerja, terutama di
Papua. Epidemi HIV dan AIDS akan meningkatkan terjadinya kemiskinan dan
ketidak seimbangan ekonomi yang diakibatkan oleh dampaknya pada individu
dan ekonomi. Dari sudut pandang individu HIV dan AIDS berarti tidak
dapat masuk kerja, jumlah hari kerja yang berkurang, kesempatan yang
terbatas untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik dan
umur masa produktif yang lebih pendek. Dampak individu ini harus
diperhitungkan bersamaan dengan dampak ekonomi pada anggota keluarga dan
komunitas. Dampak pada dunia bisnis termasuk hilangnya keuntungan dan
produktivitas yang diakibatkan oleh berkurangnya semangat kerja,
meningkatnya ketidakhadiran karena izin sakit atau merawat anggota
keluarga, percepatan masa penggantian pekerja karena kehilangan pekerja
yang berpengalaman lebih cepat dari yang seharusnya, menurunnya
produktivitas akibat pekerja baru dan bertambahnya investasi untuk
melatih mereka. HIV dan AIDS juga berperan dalam berkurangnya moral
pekerja (takut akan diskriminasi, kehilangan rekan kerja, rasa khawatir)
dan juga pada penghasilan pekerja akibat meningkatnya permintaan untuk
biaya perawatan medis dari pusat pelayanan kesehatan para pekerja,
pensiun dini, pembayaran dini dari dana pensiun akibat kematian dini,
dan meningkatnya biaya asuransi. Pengembangan program pencegahan dan
perawatan HIV di tempat kerja yang kuat dengan keikutsertaan organisasi
manajemen dan pekerja sangatlah penting bagi Indonesia. Perkembangan
ekonomi akan tertahan apabila epidemi HIV menyebabkan kemiskinan bagi
para penderitanya sehingga meningkatkan kesenjangan yang kemudian
menimbulkan lebih banyak lagi keadaan yang tidak stabil. Meskipun
kemiskinan adalah faktor yang paling jelas dalam menimbulkan keadaan
resiko tinggi dan memaksa banyak orang ke dalam perilaku yang beresiko
tinggi, kebalikannya dapat pula berlaku – pendapatan yang berlebih,
terutama di luar pengetahuan keluarga dan komunitas – dapat pula
menimbulkan resiko yang sama. Pendapatan yang besar (umumnya tersedia
bagi pekerja terampil pada pekerjaan yang profesional) membuka
kesempatan bagi individu untuk melakukan perilaku resiko tinggi yang
sama: berpergian jauh dari rumah, pasangan sex yang banyak, berhubungan
dengan PS, obat terlarang, minuman keras, dan lainnya.
4. Dampak Terhadap Tatanan Sosial
Adanya stigma dan
diskriminasi akan berdampak pada tatanan sosial masyarakat. Penderita
HIV dan AIDS dapat kehilangan kasih sayang dan kehangatan pergaulan
sosial. Sebagian akan kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan yang
pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial. Sebagaian mengalami
keretakan rumah tangga sampai perceraian. Jumlah anak yatim dan piatu
akan bertambah yang akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh sebab itu
keterbukaan dan hilangnya stiga dan diskriminasi sangat perlu mendapat
perhatian dimasa mendatang.